Permasalahan pendidikan yang dihadapi di Kabupaten Muaro Jambi akan dibagi dalam dua bagian yakni, permasalahan umum dan khusus. Secara umum permasalahan pendidikan di kabupaten Muaro Jambi dibagi dalam tiga pokok permasalahan. Sedangkan secara kusus permasalahan pendidikan akan dibahas menurut jenjang pendidikan.
Permasalahan Umum
Secara umum permasalahan pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi dibagi 3 bagian utama, yakni berkenaan dengan akses pendidikan, mutu dan relevansi pendidikan serta efisiensi manajemen pendidikan. Lebih rincinya permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :
- Permasalahan kesempatan dan pemerataan pendidikan
- Masih ada anak usia sekolah yang tidak bersekolah, terlihat dari angka APK dan APM
- Masih rendahnya cakupan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Data tentang layanan pendidikan anak usia dini menunjukkan baru 12,24% (usia 4 – 6 tahun) dan 0,50% (usia kurang dari 4 tahun) yang telah mendapatkan akses pendidikan, yang berarti masih 87,26% penduduk anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan (BPS,2006)
- Masih tercatatnya penduduk buta huruf usia 15 – 44 tahun sebesar kurang lebih 6180 orang (Susenas BPS, 2005)
- Mutu dan Relevansi Pendidikan
- Masih terbatasnya jumlah buku pelajaran (rasio 4:1) bagi siswa maupun buku referensi untuk guru, media belajar penunjang (alat praktek belajar) yang belum memadai, ruang kelas rusak.
- Metode pengajaran guru yang tidak variatif sehingga tidak memotivasi siswa untuk memahami secara lebih mendalam. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya penguasaan metode pengajaran, penguasaan media belajar ataupun minat baca guru yang rendah.
- Penyebaran guru yang belum merata di tiap wilayah kecamatan, sehingga di satu wilayah jumlah gurunya berlebih sementara wilayah kecamatan lainnya mengalami kekurangan.
- Masih ada guru yang mengajar bidang studi yang tidak sesai dengan latar belakang pendidikannya (teacher mismatch). Sementara untuk sekolah menengah kejuruan, masih banyak guru yang bukan tenaga ahli di bidangnya ataupun tidak menguasai bidangnya, sehingga mutu lulusa tidak terjamin terserap di pasar tenaga kerja.
- Kurikulum muatan lokal yang belum menyentuh kepada kebutuhan dan tantangan ke depan di daerah masing-masing
- Efisiensi Manajemen Pendidikan
- Sistem Informasi Manajemen (ketersediaannya data yang akurat dan tepat waktu) setiap kecamatan belum berjalan dengan baik.
- Pemerataan jumlah guru. Masih ada jumlah guru yang berlebih pada satu sekolah, sementara sekolah lain kekurangan.
- Hubungan kerja dan komunikasi antar Dinas Pendidikan Kabupaten dengan Dinas Pendidikan di Cabang Kecamatan belum berjalan sebagaimana mestinya sehingga potensial menimbukan permasalahan (tumpang tindih kegiatan, miskomunikasi, sistem monitoring dan evaluasi menjadi tidak akurat)
Permasalahan Khusus
Permasalahan pendidikan khususnya yang dihadapi di Kabupaten Muaro Jambi akan digambarkan menurut jenjang pendidikan sebagai berikut :
- Pendidikan Pra-Sekolah (PAUD)
- Pendirian lembaga pendidikan untuk anak usia dini (KB, TPA,TK) masih terkonsentrasi di wilayah ibukota kecamatan, elum meluas ke wilayahpedesaan dan daerah terpencil sehingga daya serap penduduk usia pra-sekolah baru mencapai kurang dari 1,0 persen.
- Masih ada sekolah yang belum memenuhi standar minimal dari segi sarana dan prasarana, mutu dan profesionalitas guru.
- Kualitas gizi anak belum memadai sehingga berpengaruh pada aktivitas bermain sambil belajar anak, ini disebabkan oleh tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga yang masih belum baik.
- Pemahaman orang tua terhadap pendidikan anaknya sejak usia dini belum memadai, masih dipandang sebagai pendidikan alternatif.
- Kurikulum pendidikan usia dini yang belum optimal mengacu pada ilmu sains pendidikan anak, sehingga materi belajar dan metode mengajar yang diadopsi mengunakan pola pengajaran pedagogi.
- Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar dibagi dalam 3 kelembagaan pendidikan, yakni di Sekolah Dsar (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Berikut gambaran permasalahan :
1. Sekolah Dasar dan Menengah Pertama
- Masih adanya anak putus sekolah atau pun belum bersekolah i usia anak sekolah dasar dikarenakan alasan ekonomi keluarga ataupun lokasi/akses mencapai sekolah yang terlalu jauh
- Mutu pendidikan belum didasari pada penguasaan kompetensi dasar, melainkan masih pada pencapaian angka partisipasi siswa
- Proses pembelajaran masih berorientasi pada penguasaan teori dan hafalan Hal ini disebabkan metode pengajaran guru yang tidak variatif dan inovatif
- Tingat kompetensi dan kesadaran profesionalisme guru belum memadai
- Muatan kurikulum pendidikan dirasakan terlalu padat
- Pelaksanaan manajemen pendidikan yang berbasiskan sekolah belum begitu dipahami oleh pengelola sekolah (kepala sekolah/guru/dewan sekolah/komite sekolah)
2. Pendidikan Luar Biasa
- Jumlah lembaga pendidikan luar biasa masih terbatas pada 1 kecamatan jadi hanya terkonsentrasi di kecamatan tersebut.
- Pandangan di masyarakat masihberanggapan keberadaan peserta didik cacat sebagai beban
- Sarana dan prasarana pendidikan sekolah luar biasa masih terbatas dan tradisional
- Mutu pendidikan dan tenaga guru profesionalitas terbatas
- Manajemen penyelenggaraan sekola dijalankan eperti pada sekolah biasa
Halaman-halaman Terkait:
Agustus 2008
| S |
S |
R |
K |
J |
S |
M |
| « Des |
|
|
| | 1 | 2 | 3 |
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
Berita & Artikel
Rubrikasi
Posting Terakhir
Arsip Tulisan
Pranala Kelembagaan
Departemen Pendidikan Nasional
IndieTown

NISN
NUPTK
Pemkab Muarojambi
Sertifikasi Guru
SLB Jambi
Silakan Kirimkan Tulisan Anda tentang dunia Pendidikan, atau berita tentang kegiatan di sekolah Anda
Kirimkan kepada
Tim Pengelola Situs Web Diknas
Muaro Jambi, melalui e-mail admin@diknas-muarojambi.org,
dengan subject surat "Kiriman Tulisan".